BTCClicks.com Banner bitcoinaliens

www.speedcash.co.id

bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

www.fasapay.co.id

FasaPay Online Payment System

TSEL COMUNITY

Gratis Nelpon dan SMS

Kamis, 16 Juni 2011

Sejarah Islam di Cina

Sejarah Islam Di Negeri Tirai Bambu Cina Mar 30, ’08 8:41 AM
for everyone
Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina,” begitu kata petuah Arab. Jauh sebelum ajaran Islam diturunkan Allah SWT, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Kala itu, masyarakat Negeri Tirai Bambu sudah menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan dan peradaban.
Tak bisa dipungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari negeri ini. Beberapa contohnya antara lain, ilmu ketabiban, kertas, serta bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban masyarakat Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum tahun 500 M.
Sejak itu, para saudagar dan pelaut dari Arab membina hubungan dagang dengan `Middle Kingdom’ – julukan Cina. HISTORY OF ISLAM IN CAHINA
Untuk bisa berkongsi dengan para saudagar Cina, para pelaut dan saudagar Arab dengan gagah berani mengarungi ganasnya samudera. Mereka `angkat layar’ dari Basra di Teluk Arab dan kota Siraf di Teluk Persia menuju lautan Samudera Hindia.
Sebelum sampai ke daratan Cina, para pelaut dan saudagar Arab melintasi Srilanka dan mengarahkan kapalnya ke Selat Malaka. Setelah itu, mereka berlego jangkar di pelabuhan Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu. Guangzhou merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina. Sejak itu banyak orang Arab yang menetap di Cina.
Ketika Islam sudah berkembang dan Rasulullah SAW mendirikan pemerintahan di Madinah, di seberang lautan Cina tengah memasuki periode penyatuan dan pertahanan. Menurut catatan sejarah awal Cina, masyarakat Tiongkok pun sudah mengetahui adanya agama Islam di Timur Tengah. Mereka menyebut pemerintahan Rasulullah SAW sebagai Al-Madinah.

The Great Mosque of Xi’an, one of China’s oldest mosques
Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti ‘agama yang murni’. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran ‘Buddha Ma-hia-wu’ (Nabi Muhammad SAW). Terdapat beberapa versi hikayat tentang awal mula Islam bersemi di dataran Cina. Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa para sahabat Rasul yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethopia). Sahabat Nabi hijrah ke Ethopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraish jahiliyah. Mereka antara lain; Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Usman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa’ad bin Abi Waqqas, paman Rasulullah SAW; dan sejumlah sahabat lainnya.
Para sahabat yang hijrah ke Etopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581 M – 618 M).
Sumber lainnya menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Sa’ad Abi Waqqas dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethopia pada tahun 616 M. Setelah sampai di Cina, Sa’ad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa kitab suci Alquran.
Ada pula yang menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M – kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Sa’ad bin Abi Waqqas untuk membawa ajaran Illahi ke daratan Cina. Konon, Sa’ad meninggal dunia di Cina pada tahun 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys’ Mazars.
Utusan khalifah itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Kaisar pun lalu memerintahkan pembangunan Masjid Huaisheng atau masjid Memorial di Canton – masjid pertama yang berdiri di daratan Cina. Ketika Dinasti Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok.

Id Khar Mosque
Pada awalnya, pemeluk agama Islam terbanyak di Cina adalah para saudagar dari Arab dan Persia. Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Sejak saat itu, pemeluk Islam di Cina kian bertambah banyak. Ketika Dinasti Song bertahta, umat Muslim telah menguasai industri ekspor dan impor. Bahkan, pada periode itu jabatan direktur jenderal pelayaran secara konsisten dijabat orang Muslim.
Pada tahun 1070 M, Kaisar Shenzong dari Dinasti Song mengundang 5.300 pria Muslim dari Bukhara untuk tinggal di Cina. Tujuannya untuk membangun zona penyangga antara Cina dengan Kekaisaran Liao di wilayah Timur Laut. Orang Bukhara itu lalu menetap di di antara Kaifeng dan Yenching (Beijing). Mereka dipimpin Pangeran Amir Sayyid alias ‘So-Fei Er’. Dia bergelar `bapak’ komunitas Muslim di Cina.
Ketika Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M) berkuasa, jumlah pemeluk Islam di Cina semakin besar. Mongol, sebagai minoritas di Cina, memberi kesempatan kepada imigran Muslim untuk naik status menjadi Cina Han. Sehingga pengaruh umat Islam di Cina semakin kuat. Ratusan ribu imigran Muslim di wilayah Barat dan Asia Tengah direkrut Dinasti Mongol untuk membantu perluasan wilayah dan pengaruh kekaisaran.
Bangsa Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan. Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq.
Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada 1388, Lan memimpin pasukan Dinasti Ming dan menundukkan Mongolia. Tak lama setelah itu muncul Laksamana Cheng Ho – seorang pelaut Muslim andal.
Saat Dinasti Ming berkuasa, imigran dari negara-negara Muslim mulai dilarang dan dibatasi. Cina pun berubah menjadi negara yang mengisolasi diri. Muslim di Cina pun mulai menggunakan dialek bahasa Cina. Arsitektur Masjid pun mulai mengikuti tradisi Cina. Pada era ini Nanjing menjadi pusat studi Islam yang penting. Setelah itu hubungan penguasa Cina dengan Islam mulai memburuk.
Masa Surut Islam di Daratan Cina

The Niujie Mosque in Beijing
Hubungan antara Muslim dengan penguasa Cina mulai memburuk sejak Dinasti Qing (1644-1911) berkuasa. Tak cuma dengan penguasa, relasi Muslim dengan masyarakat Cina lainnya menjadi makin sulit. Dinasti Qing melarang berbagai kegiatan Keislaman.
Menyembelih hewan qurban pada setiap Idul Adha dilarang. Umat Islam tak boleh lagi membangun masjid. Bahkan, penguasa dari Dinasti Qing juga tak membolehkan umat Islam menunaikan rukun Islam kelima – menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah.
Taktik adu domba pun diterapkan penguasa untuk memecah belah umat Islam yang terdiri dari bangsa Han, Tibet dan Mogol. Akibatnya ketiga suku penganut Islam itu saling bermusuhan. Tindakan represif Dinasti Qing itu memicu pemberontakan Panthay yang terjadi di provinsi Yunan dari 1855 M hingga 1873 M.
Setelah jatuhnya Dinasti Qing, Sun Yat Sen akhirnya mendirikan Republik Cina. Rakyat Han, Hui (Muslim), Meng (Mongol) dan Tsang (Tibet) berada di bawah Republik Cina. Pada 1911, Provinsi Qinhai, Gansu dan Ningxia berada dalam kekuasaan Muslim yakni keluarga Ma.
Kondisi umat Islam di Cina makin memburuk ketika terjadi Revolusi Budaya. Pemerintah mulai mengendorkan kebijakannya kepada Muslim pada 1978. Kini Islam kembali menggeliat di Cina. Hal itu ditandai dengan banyaknya masjid serta aktivitas Muslim antaretnis di Cina.

Tokoh Muslim Terkemuka dari Tiongkok
Dominasi peran Muslim dalam lingkaran kekuasaan dinasti-dinasti Cina pada abad pertengahan telah melahirkan sejumlah tokoh Muslim terkemuka. Mereka adalah:
Pelaut dan Penjelajah
* Cheng Ho atau Zheng He: Laksamana Laut Cina yang menjelajahi dua benua dalam tujuh kali ekspedisi.
* Fei Xin: Penerjemah andalan Cheng Ho.
* Ma Huan: Seorang pengikut Ceng Ho.
Militer
* Jenderal pendiri Dinasti Ming: Chang Yuchun, Hu Dahai, Lan Yu, Mu Ying.
* Pemimpin pemberontakan Panthay: Du Wenxiu, Ma Hualong.
* Kelompok tentara Ma selama era Republik Cina: Ma Bufang, Ma Chung-ying, Ma Fuxiang, Ma Hongkui, Ma Hongbin, Ma Lin, Ma Qi, Ma Hun-shan Bai Chongxi.
Sarjana dan Penulis
* Bai Shouyi, sejarawan.
* Tohti Tunyaz, sejarawan.
* Yusuf Ma Dexin, penerjemah Alquran pertama ke dalam bahasa Cina.
* Muhammad Ma Jian, penulis dan peberjemah Alquran terkemuka.
* Liu Zhi, penulis di era Dinasti Qing.
* Wang Daiyu, ahli astronomi pada era Dinasti Ming.
* Zhang Chengzhi, penulis kontemporer.
Politik
* Hui Liangyu, Wakil Perdana Menteri Urusan Pertanian RRC
* Huseyincan Celil, Imam Uyghur yang dipenjara di Cina
* Xabib Yunic, Menteri Pendidikan Second East Turkistan Republic
* Muhammad Amin Bughra, Wakil Ketua Second East Turkistan Republic
Lainnya
* Noor Deen Mi Guangjiang, ahli kaligrafi.
* Ma Xianda, ahli beladiri.
* Ma Menta, pengurus Federasi Wushu Tongbei Rusia.
PLEASE VISIT HERE NOW HISTORY OF ISLAM IN CAHINA
cn.jpg
0548muslim01.jpg



http://newyorkermen.multiply.com/

Dinasti Ming adalah Dinasti Islam?


Salam Sejarah buat semua. Kali ini kita akan melihat beberapa catatan para sejarawan tentang kebenaran bahawa sekian banyak dinasti di China, Dinasti Ming telah dikenalpasti sebagai sebuah Dinasti Islam. Adakah ia benar?

Sejarah keIslaman Dinasti Ming ini amat jarang sekali disentuh oleh para orientalis yang mengkajinya mahupun dalam kalangan sejarawan-sejarawan China yang bukan Islam.

Misalnya dalam buku 'The Cambridge History of China' tidak ada langsung menyebut peranan orang Islam dalam menegakkan kerajaan itu, bahkan peristiwa kebangkitan kumpulan Islam seperti Kebangkitan Serban Merah hanya dikaitkan dengan pengikut agama Buddha sahaja.

Dalam bukunya 'Sejarah Islam di China, Jing Chee Tang telah memberikan beberapa alasan yang jelas menunjukkan bahawa Chu Yuan Chang, pengasas kerajaan Ming itu ialah seorang Islam. Ibrahim T.Y.Ma juga telah membuktikan perkara yang sama.

Yusuf Chang dalam sebuah artikelnya menyatakan bahawa Chu Yuan Chang (baginda menggunakan gelaran Maharaja Hung Wu) seorang Islam dari keturunan Semu (semitik) yang telah datang ke China dalam zaman Yuan. Seorang lagi sejarawan China seperti Muhammad Pai Shou Yi juga menyatakan bahawa selain Chu Yuan Chang, permaisurinya iaitu Ratu Ma Hou jelas beragama Islam kerana baginda berasal daripada keluarga Ma di An Hui.

Dikisahkan juga setelah menawan Nanking, Chu Yuan Chang telah mendirikan sebuah masjid jami'. Masjid ini dinamakan Masjid Chin Juieh yang bermaksud 'Pencerahan Murni'. Bahkan baginda sendiri telah menulis sebuah sajak untuk diabadikan pada dinding masjid yang dibinanya itu. (Ibrahim T.Y.Ma, 1979:126)

Ibrahim Tien Ying Ma, bekas mufti Peking (Beijing) dan salah seorang pegawai Republik China sebelum China jatuh ke tangan Komunis pada tahun 1949, telah menyatakan bahawa Dinasti Ming itu memang sebuah kerajaan Islam.

Beliau menjelaskan bahawa 'Ming' bermaksud 'gilang-gemilang atau terang-benderang'. Perkara ini mengingatkan kita kepada tindakan Rasulullah Saw ketika mula-mula sampai ke Yathrib pada tahun 622M. Baginda telah menukarkan nama kota itu kepada Madinah al-Munawarah atau 'Kota yang gilang-gemilang dan bercahaya'. Perkara ini bukanlah satu kebetulan. Ia memang disengajakan kerana pengasas kerajaan Ming adalah seorang Islam (1979:134).

Sumber:
1) Ma, Ibrahim T.Y., Perkembangan Islam di Tiongkok, Bulan Bintang, Jakarta, 1979.
2) Chang, Yusuf, 'The Ming Empire: Patron of Islam in China and Southeast and West Asia', dlm. JMBRAS, Jilid 61, Bahagian 2, 1988.
3) Mote, F.W., Twitchett, D., (ed), The Cambridge History of China, Jilid 7, Cambridge University Press, Cambridge, 1988.
Di Guangzhou, sejarah Islam di China bermula. Sebuah makam yang diyakini sebagai makam dari penyebar Islam pertama di China, terletak di kawasan tersebut, juga sebuah masjid yang diperkirakan berusia 1.300 tahun. Seorang lelaki usia 30-an melongok malu-malu dari balik pintu Masjid Huaisheng. Sejak tadi, ia berada di situ, mengamati orang lalu-lalang di depan masjid, entah yang berniat salat ataupun sekadar mengamati detail arsitektur masjid dengan kamera di tangan.



Lelaki itu, dengan jubah warna biru dan kopiah putih di kepalanya, serta jenggot panjang yang tumbuh di janggutnya, sama sekali tak tampak garang. Melihat senyum simpul dan sorot di matanya, ia benar-benar jauh dari kesan tak ramah. Dengan isyarat tangan, ia bahkan mengundang saya masuk ke masjid dan mengambil gambar dari dalam.

Menurut manuskrip tahun 1216, masjid ini dibangun atas inisiatif Sa’ad bin Abi Waqqas, paman Muhammad SAW dari pihak ibu. Abi Waqqas ini pula yang diyakini sebagai penyebar Islam pertama di daratan China.

Nama Huaisheng punya arti “kenangan untuk sang pemula” yang dibangun sebagai penghormatan untuk Muhammad SAW. Huaisheng adalah satu dari empat masjid yang paling populer di China. Tiga lainnya adalah Yangzhou Crane, Quanzhou Kylin, dan Hangzhou Phoenix. Namun, Huaisheng adalah yang tertua.

Belum diketahui pasti apakah masjid ini dibangun di masa Dinasti Tang atau awal pemerintahan Dinasti Song. Yang pasti, masjid ini dibangun lagi pada tahun 1350 di masa Dinasti Yuan di bawah pemerintahan Zhizheng (1341-1368) dan kemudian dibangun lagi di tahun 1695 di bawah Kaisar Kangzi pada masa Dinasti Qing. Mirip dengan masjid Quanzhou, Hangzhou, dan Yangzhou, arsitektur Masjid Huaisheng merupakan perpaduan dari bangunan tradisional suku Han dan style bangunan yang diimpor dari Arab.



Luas area masjid sekitar 3.000 meter persegi. Pintu masuk masjid ini terletak di Guangta Road. Dari luar tampak seperti bangunan biasa, kecuali tanda gerbang pintu masuk yang dibuat dengan tumpukan bata merah dan menara yang menyembul di sisi kanan dari balik tembok. Di atas tembok ini tertulis huruf China yang menyebut bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan sejarah yang berada di bawah lindungan pemerintah.
Kompleks masjid ini terdiri dari koridor berbentuk U yang melingkupi halaman gedung yang dikelilingi tembok dan berakhir dengan dengan bangunan utama di dalam masjid. Bangunan utama masjid dibangun dengan beton pada tahun 1935.

Masjid ini juga dinamai Light Tower Mosque karena memiliki sebuah menara yang pernah digunakan sebagai mercusuar untuk kapal-kapal yang berlayar di Sungai Zhujiang. Para pelaut dulu sering memanjat menara ini untuk melihat kondisi cuaca.

Dari masjid ini, sekitar 10 menit dengan bus, terletak makam Abi Waqqas. Tahun kedatangannya ke China masih jadi perdebatan. Ada yang menyebut bahwa ia datang ke China sekitar tahun 640 atau delapan tahun setelah meninggalnya Muhammad SAW, atas undangan Kaisar China, guna menyebarkan ajaran Islam. Namun, ada juga data yang menyebut bahwa ia datang ke China saat Muhammad SAW masih hidup (tepatnya sekitar tahun 616) dan kemudian meninggal di negeri tersebut pada tahun 664 saat menginjak usia 80 tahun.

Untuk memasuki makam Abi Waqqaas, pengunjung masih harus berjalan kaki sekitar 100 meter dari pintu utama. Setelah masuk pintu makam, ada dua pintu lagi yang mesti dilewati untuk menuju makam Abi Waqqaas. Makam tersebut ditempatkan dalam bangunan sehingga terlindung dari panas dan hujan. Di sekitarnya, ada sejumlah makam lainnya yang terlindung di bawah naungan pohon beringin.



Musa (60), seorang China muslim yang merupakan salah satu penjaga makam tersebut, mengatakan bahwa setiap hari ada pengunjung yang datang ke makam itu dari berbagai negara. Di dekat pintu masuk makam, disediakan tempat untuk salat, persis di dekat mata air yang ditemukan 1300 tahun lampau. Air dari mata air yang kini dibikin pompa tersebut, masih kerap diminum oleh para pengunjung. Saya sempat mencicipnya.

Menurut Musa, kehidupan beragama di China cukup baik. Pemerintah menjamin warganya menjalankan ibadah agama. Musa mengaku menjadi Islam sejak umur 6 tahun dan sejak 16 tahun lalu, ia bekerja sebagai penjaga di makam Abi Waqqas.

Ia mengatakan bahwa kebijakan pemerintah soal kehidupan beragama tak pernah berubah, bahkan saat politik China kini berada di bawah kepemimpinan partai komunis. Saat ini, 20 juta dari 1,3 miliar penduduk China adalah Muslim. Sebanyak 30.000 masjid dan ribuan restoran yang menyajikan menu halal, membentang di daratan China.

Di Guangzhou, saya sempat menyantap makan siang di sebuah restoran halal di ruas Ganghua Road yang masuk dalam Distrik Baiyun. Namanya Qinghai Muslim Restaurant. Rasa makanan dan juga kualitas pelayanannya dijamin akan membuat Anda selalu ingin kembali ke sana.

TSEL COMUNITY

Tawk.to